Selasa, 26 Januari 2016

JAUHKAN PENDIDIKAN YANG MENGHUKUM DI INDONESIA

JAUHKAN PENDIDIKAN YANG MENGHUKUM DI INDONESIA
Ditulis oleh: Prof.Dr. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)


Lima belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal, dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya, tulisan itu buruk. Logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat.
  • "Maaf, Bapak dari mana?"
  • "Dari Indonesia," jawab saya.
Dia pun tersenyum.
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
  • "Saya mengerti," jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. "Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini," lanjutnya.
  • "Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!", dia pun melanjutkan argumentasinya.
"Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun6 untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat," ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa6 mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai "A", dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Padahal, saat menempuh ujian program doktor di luar negeri, saya dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan para dosen penguji memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun, suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya, sedangkan penguji yang lainnya tidak ikut menekan. Melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
***
Etikanya, seorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan. Tapi yang sering terjadi di tanah air justru penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukannya melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga cenderung menguji dengan cara menekan. Ada semacam unsur balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Lantas saya berpikir, pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakter hasil didikan guru-gurunya sangat kuat: yaitu karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. "Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan," ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal. Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. "Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti."
Malam itu, saya pun mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa bersalah karena telah memberinya penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya justru mengatakan bahwa "gurunya salah". Kini, saya mampu melihatnya dengan kacamata yang berbeda. Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: Rotan pemukul, dilempar kapur atau penghapus oleh guru, setrap, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata ancaman: Awas...; Kalau...; Nanti...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah. Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin membuat kita lebih disiplin. Namun, juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, kecerdasan manusia dapat tumbuh, tetapi sebaliknya juga dapat menurun. Ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi, juga ada orang yang "tambah pintar" dan ada pula orang yang "tambah bodoh". Mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah anak Indonesia untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi cap jelek... Semoga bermanfaat. Aamiin.

Senin, 08 Juni 2015

Literasi Kelas Awal (Membaca dan Menulis)



Perkembangan Literasi Kelas Awal (Membaca dan Menulis)

Tahap
Membaca
Menulis
Emergent

  • Memperhatikan lingkungan kelas yang kaya akan bahan cetakan.
  • Menunjukkan perhatian pada buku-buku.
  • Mencoba untuk membaca.
  • Menggunakan media gambar dan pola-pola yang dapat diprediksi dari buku untuk menceritakan kembali cerita.
  • Membaca ulang teks yang familiar dengan pola-pola yang dapat diprediksi.
  • Mengidentifikasi berbagai tulisan tentang nama-nama.
  • Mengenali 5-20 kata-kata yang familiar atau berfrekuensi tinggi.
  • Membedakan tulisan dengan gambar. 
  • Menulis huruf, seperti bentuk-bentuk tulisan cakar ayam.
  •  Mengembangkan pemahaman langsung. 
  • Menunjukkan perhatian pada tulisan.Menulis huruf pertama dan huruf akhir.
  •  Menulis 5-20 kata-kata yang familier atau sering muncul.Menggunakan kerangka kalimat untuk menulis kalimat.
Pemula

  • Mengidentifikasi nama-nama huruf dan bunyinya.
  • Memasangkan kata-kata yang diucapkan pada tulisan.
  • Menyamakan tulisan dengan bacaan.
  • Menggunakan permulaan, pertengahan, dan akhir dari bunyi bacaan (intonasi)
  • Memadukan pengetahuan dalam sistem bacaan yang benar.
  • Mengoreksi sendiri diantara bacaanMembaca dengan pelan tahap demi tahap
  •  Membaca ulang secara oral
  •  Menjelaskan inti bacaan
  • Menggunakan prediksi secara beralasan.
  • Menulis dari kiri ke kanan.
  • Dapat menulis sedikit atau banyak tulisan.
  • Menulis satu atau lebih kalimat.
  • Menambahkan judul.
  • Dapat mengeja banyak kata.
  • Menulis suku kata dari komposisi kalimat.
  • embiasakan penulisan huruf besar pada awal kalimat.Mengulang ucapan saat menulis.
  •  
Lancar
 

  • Dapat mengidentifikasi arti kata.
  • Membaca dengan ekspresi.
  • Membaca dengan jarak 100 kata per menit atau lebih.
  • Membaca dalam hati.
  • Mengidentifikasi kata-kata yang tidak familiar (asing).
  • Dapat menguatkan efektivitas variasi dalam bacaan
  • Dengan pengetahuan tekstur dapat mendukung pemahaman.
  • Menggunakan perbedaan pada saat membaca kata.
  • Membiasakan proses menulis sampai akhir
  • Menulis komposisi dengan lebih dari satu paragraf
  • Menambahkan infleksi pada akhir kalimat.
  • Mererapkan aturan penggunaan huruf besar
  • Dapat mengeja banyak kata
  • Menulis suku kata dari komposisi kalimat
  • Membiasakan penulisan huruf besar pada awal kalimat
  • Mengulang ucapan saat menulis


Rekomendasi Pembelajaran Literasi Kelas Awal

Membaca
Menulis
Tahap Emergent :
  • Memanfaatkan lingkungan yang kaya akan media cetak.
  • Menggunakan visual/gambar.
  • Membaca nyaring untuk siswa (membacakan).
  • Membaca cerita dari buku besar/bergambar.
  • Mendramatisasikan teks cerita dengan menggunakan bahasa.
  • Menggunakan alfabet secara rutin dalam pembelajaran.
  • Mengambil cerita anak dengan pendekatan pengalaman berbahasa.

Tahap Emergent :
  • enulis menggunakan krayon dan pensil.
  • Mempelajari teknik-teknik menulis (cara memegang pensil, jarak mata, dan posisi tubuh).
  • Menulis interaktif dalam kelompok besar dan kecil.
  • Menulis nama, tanggal setiap kegiatan pembelajaran.
  • Menulis kata-kata familiar yang ada di dalam kelas dalam bentuk daftar.
  • Menjaga ingatan apa yang ditulis untuk kemudian dapat dibaca kembali.
Tahap Pemula:
  • Membaca peta, cerita bergambar, atau lagu untuk memahaminya.
  •  Membaca leaflet.
  •  Membaca ulang buku yang sudah dibaca.
  •  Membawa buku untuk dibaca bersama orang tuanya.
  • Mempelajari 100 kata-kata yg sering muncul.
  • Menemukan teks cerita atau buku-buku informasi.
  • Belajar memprediksi, menghubungkan, kroscek dan strategi lainnya.
  • Membelajari elemen struktur cerita.
  • Siswa memiliki tulisan dalam membaca dan berpartisipasi dalam percakapan.
Tahap Pemula:
  • Menulis interaktif dalam konteks menulis bahasa tulisan.
  • Menghasilkan persiapan harian untuk menulis berbagai variasi tujuan dan menggunakan genre yang berbeda.
  • Mengembangkan proses menulis
  • Mengembangkan gagasan tunggal dalam karangannya.
  • Menyiapkan pra-menulis karangan.
  • Menuliskan 100 kata-kata yang sering muncul.
  • Menulis singkatan.
  • Menulis dengan memperhatikan huruf besar.

Tahap Lancar
  • Berpartisipasi dalam siklus sastra.
  • Berpartisipasi dalam bengkel membaca.
  • Mempelajari tentang genre dan fitur teks lainnya.
  • Melibatkan anak dalam menulis dan study genre.
  •  Memahami teks dan membedakan dengan teks lainnya.
  •  Menggunakan kecakapan siswa dalam strategi pemahaman.
  • Mengapreasiasi buku-buku melalui diskusi dan tulisan.
Tahap Lancar
  • Berpartisipasi dalam bengkel menulis.
  • Menggunakan proses menulis.
  • Merevisi dan mengedit tulisan.
  • Keterampilan memparagrafkan teknik pengucapan.
  • Menemukan sinonim, homonim, akar kata, afiks, menggunakan kamus, dan ensiklopedi.


Seri Pengelolaan Pembelajaran yang Efektif




Karakteristik Pengelolaan Pembelajaran yang Efektif

  1.  Pengelolaan kelas yang bervariasi (klasikal, kelompok/berpasangan, dan individual)

  • Klasikal: di awal pembelajaran dalam apersepsi, pemberian tujuan, dan penugasan; di bagian akhir dalam  perumusan kesimpulan/rangkuman dan pemberian konfirmasi.
  • Kelompok/berpasangan: untuk kerja kooperatif (misalnya diskusi pemecahan masalah bersama, berbagi informasi, tutor sebaya)
  • Individu: dilakukan pada bagian inti berupa pemberian tugas kreatif sesuai potensi individu siswa. Pengelolaan individu juga dilakukan pada proses penilaian pencapaian kompetensi.

2.  Strategi pembelajaran yang mengaktifkan semua siswa, menumbuhkan kreativitas, merangsang untuk berpikir, berbuat, yang efektif mencapai tujuan, dan menyenangkan (tidak membuat anak stres/tertekan/takut salah).
3.  Pemberian tugas yang bermakna, yaitu:

  • memotivasi dan menantang untuk belajar,
  • memberi ruang kepada setiap siswa untuk menggali informasi dan menuangkan gagasan sebagai bentuk aktualisasi pemikiran,
  • mendorong siswa menghasilkan karya yang bervariasi (siswa berani menampilkan karyanya dalam berbagai bentuk) sesuai tujuan dan kompetensi yang ditetapkan,
  • kualitas tugas sesuai dengan bentuk pengelolaan kelas,
  • siswa difasilitasi untuk bertanggungjawab terhadap pencapaian kompetensi.
Alur pengelolaan pembelajaran yang efektif, antara lain dapat berwujud sebagai berikut: (Halaman berikutnya)



Alur Pengelolaan Pembelajaran yang Efektif


Klasikal
:
  1. Apersepsi, penyampaian tujuan pembelajaran,  dan pemberian tugas yang bermakna
Kelompok
:
2.     Mencari, membahas, mengorganisasi informasi secara kooperatif
3.     Saling melaporkan informasi secara lisan, menerima umpan balik, menyusun tugas kelompok
Individu
:
4.     Menulis laporan/hasil karya perorangan (draf)
5.     Membahas hasil karya sendiri dengan meminta masukan teman dan memperbaikinya
Klasika
:
6.     Presentasi hasil karya siswa dan diskusi
7.     Kesimpulan, penguatan, pemberian informasi lebih lanjut oleh guru
8.     Penilaian hasil karya siswa