Selasa, 05 April 2016

Metode Pembelajaran "Lesson Study"

Mohon Ijin Share dari  http://pgsd-vita.blogspot.co.id/2013/01/metode-pembelajaran-lesson-study.html?m=1
A. Pengertian Metode Lesson Study
Lesson Study (LS) pada awalnya dimulai dengan pengkajian materi kurikulum (kyouzai kenkyuu) yang berfokus pada pengajaran matematika bagi guru-guru di Jepang. Kajian tersebut mendasarkan diri pada kurikulum matematika di U.S yang dirancang berbasis temuan-temuan penelitian unggul. Kajian tersebut melahirkan suatu perubahan paradigma tentang materi kurikulum dari ”memanjakan” menuju pada ”pemberdayaan” potensi siswa. Paradigma ”memanjakan” mengalami anomali, karena materi kurikulum sering tidak memperhatikan karakteristik siswa, sehingga substansi materi sering lepas konteks dan tidak relevan dengan kebutuhan siswa. Akibatnya, siswa kurang tertarik, pembelajaran menjadi tidak bermakna, dan siswa sering menyembunyikan ketidakmampuan.
Hal ini terjadi sebagai akibat koreksi dan perhatian guru yang lemah terhadap potensi mereka. Sementara, paradigma ”pemberdayaan” bertolak dari potensi siswa yang mampu ”mengada”, sehingga materi kurikulum seyogyanya dikembangkan berbasis kebutuhan siswa, materi seyogyanya menyediakan model pedagogik yang mampu menampilkan aspek kemenarikan pembelajaran. Paradigma tersebut dapat berkembang jika pembelajaran dihasilkan dari kerja tim mulai dari perencanaan, pelaksanaan, diskusi, kolaborasi, dan refleksi secara berkesinambungan. Cara seperti ini melahirkan konsep Lesson Study (LS).
Lesson Study merupakan terjemahan dari bahasa Jepang jugyou (instruction = pengajaran, atau lesson = pembelajaran) dan kenkyuu (research = penelitian atau study = kajian). Lesson study, yang dalam bahasa Jepangnya jugyou kenkyuu, adalah sebuah pendekatan untuk melakukan perbaikan-perbaikan pembelajaran di Jepang. Perbaikan-perbaikan pembelajaran tersebut dilakukan melalui proses-proses kolaborasi antar para guru. Lewis (2002) mendeskripsikan proses-proses tersebut sebagai langkah-langkah kolaborasi dengan guru-guru untuk merencanakan (plan), mengamati (observe), dan melakukan refleksi (reflect) terhadap pembelajaran (lessons). Lebih lanjut, dia menyatakan, bahwa Lesson study adalah suatu proses yang kompleks, didukung oleh penataan tujuan secara kolaboratif, percermatan dalam pengumpulan data tentang belajar siswa, dan kesepakatan yang memberi peluang diskusi yang produktif tentang isu-isu yang sulit.
Lesson Study ( LS ) pada hakikatnya merupakan aktivitas siklikal berkesinambungan yang memiliki implikasi praktis dalam pendidikan.  LS dapat berfungsi sebagai salah satu upaya pelaksanaan program in-service training bagi para guru.  Lesson study bukan metode pembelajaran atau strategi pembelajaran, melainkan dalam lesson study dapat dipilih dan diterapkan berbagai metode/strategi pembelajaran atau materi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, atau masalah pembelajaran yang dihadapi siswa dan pendidik
   
Upaya tersebut dilakukan secara kolaboratif dan berkelanjutan. Pelaksanaanya adalah di dalam kelas dengan tujuan memahami siswa secara lebih baik. LS dilaksanakan secara bersama-sama dengan guru lain. LS merupakan salah satu strategi pengembangan profesi guru. Kelompok guru mengembangkan pembelajaran secara bersama-sama, salah seorang guru ditugasi melaksanakan pembelajaran, guru lainnya mengamati belajar siswa. Proses ini dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung. Pada akhir kegiatan, guru-guru berkumpul dan melakukan tanya jawab tentang pembelajaran yang dilakukan, merevisi dan menyusun pembelajaran berikutnya berdasarkan hasil diskusi.
B.   Tujuan Diterapkannya Metode Lesson Study
1.      Lesson Study memungkinkan Guru Memikirkan Dengan Cermat Mengenai Tujuan Pembelajaran, Materi Pokok, dan Bidang Studi.
Lesson Study tidak hanya memperhatikan pembelajaran untuk satu kali pertemuan atau satu pokok bahasan saja, melainkan bagaimana membelajarkan satu unit materi pokok dan bahkan bidang studi, dan juga memperhatikan perkembangan siswa dalam jangka panjang. Karena itu, ketika memilih bidang kajian akademis dan topik LS, guru sering menargetkan dalam mengatasi kelemahan siswa dalam belajar, memilih topic yang bagi guru sulit mengajarkannya, memilih subjek terkini, misalnya aspek kebaharuan segi isi, teknologi, dan pendekatan pembelajaran,  memusatkan perhatian pada hal terpenting yang mendasar yang berpengaruh terhadap pembelajaran lainnya (misalnya bahasa dan matematika).
2.      Lesson Study Memungkinkan Guru Mengkaji dan Mengembangkan Pembelajaran yang Terbaik yang Dapat Dikembangkan
Melalui LS, guru dapat mengkaji dan mengemangkan pembelajaran yang terbaik, misalnya guru mampu menghasilkan produk buku. Buku-buku tersebut memuat tujuan jangka panjang yang ingin dicapai, filosofi pembelajaran yang dianut, rancangan pembelajaran dan rancangan seluruh unit, contoh hasil kerja siswa, hasil refleksi mengenai kekuatan dan kesulitan dalam pembelajaran, serta petunjuk praktis bagi guru lain yang ingin mencoba pembelajaran tersebut. Dalam hal ini, guru yang lain tidak hanya diharapkan mencoba membelajarkan, tetapi yang lebih penting mereka sedapat mungkin menambah, menguji, dan melaporkan perbaikan yang mereka lakukan. Proses tersebut akan bermuara pada peningkatan kualitas pembelajaran. 
 
3.      Lesson Study memungkinkan Guru Memperdalam Pengetahuan Mengenai Materi Pokok Yang Diajarkan
Lesson Study juga memperdalam pengetahuan guru mengenai materi pokok yang diajarkan. Dengan melaksanakan LS, guru dapat mengidentifikasi dan mengorganisasi informasi apa yang mereka perlukan untuk memecahkan masalah pembelajaran yang menjadi fokus kajian dalam LS. Melalui LS guru secara bersama-sama berkesempatan untuk memikirkan pengetahuan yang dianggap penting, apa saja yang belum mereka ketahui mengenai hal itu, dan berusaha mencari informasi yang mereka perlukan untuk membelajarkan siswa.
4.      Lesson Study Memungkinkan Guru Memikirkan Secara Mendalam Tujuan Jangka Panjang Yang Akan Dicapai Yang Berkaitan dengan Siswa
Lesson Study dapat memberi kesempatan kepada guru untuk mempertimbangkan kualitas ideal yang ingin dikuasai oleh siswa pada saat mereka lulus, kualitas apa yang dimiliki siswa saat sekarang, dan bagaimana mengatasi kesenjangan yang ada di antaranya. Guru sering menerjemahkan kualitas ideal yang diharapkan dimiliki oleh para siswa itu adalah dalam bentuk kecakapan hidup. Kecakapan-kecakapan hidup yang dimaksud, misalnya sikap menghargai persahabatan, mengembangkan perspektif, dan cara berpikir dalam menikmati sains.
5.      Lesson Study Memungkinkan Guru Merancang Pembelajaran Secara Kolaboratif
LS memberi kesempatan kepada guru secara kolaboratif merancang pembelajaran. Menurut Lewis (2002), rata-rata guru di Jepang mengamati sekitar 10 pembelajaran yang diteliti setiap tahun. Guru di Jepang mempersepsi bahwa aktivitas kolaboratif sangat menguntungkan. Aktivitas kolaboratif dapat memberikan kesempatan kepada guru untuk memikirkan pembelajarannya sendiri setelah mempertimbangkannya dengan pengalaman yang dilakukan oleh guru yang lain. Melalui LS guru dapat saling membelajarkan melalui aktivitas-aktivitas shared knowledge.
6.      Lesson Study Memungkinkan Guru Mengkaji Secara Cermat Cara dan Proses Belajar Serta Tingkah Laku Siswa
LS memberi kesempatan kepada guru untuk mengkaji secara cermat cara dan proses belajar serta aktivitas siswa. Fokus LS hendaknya diarahkan pada peningkatan pembelajaran melalui pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa. Pengamatan tersebut bertujuan untuk menemukan cara-cara untuk meningkatkan kegiatan belajar dan kegiatan berpikir siswa, bukan pada kegiatan guru. Oleh sebab itu, aktivitas Lesson Study sesungguhnya bukan menyalahkan guru atau mengkritik kesalahan guru. Di dalam LS, guru perlu mencari bukti bahwa siswa memang belajar, termotivasi, dan berkembang. Berdasarkan data yang dikumpulkan, guru dapat melihat pembelajarannya melalui tanggapan siswa. Untuk memperoleh respon siswa tersebut, pertanyaan yang dapat diajukan, adalah: bagaimana pemahaman siswa mengenai materi pembelajarannya? Apakah siswa tertarik untuk belajar? Apakah mereka memperhatikan ide siswa lainnya? Secara singkat, ada 5 hal penting terkait dengan data siswa yang perlu dikumpulkan, yaitu hasil belajar akademis, motivasi dan persepsi, tingkah laku sosial, sikap terhadap belajar, dan interaksi guru-siswa dalam proses pembelajaran.
7.      Lesson Study Memungkinkan Guru Mengembangkan Pengetahuan Pedagogis Yang Kuat Penuh Daya
Lesson Study dapat memberi peluang kepada guru untuk mengembangkan pengetahuan pedagogis secara optimal. Hal ini disebabkan karena melalui LS guru secara terus menerus berupaya untuk mengembangkan dan meningkatkan strategi pembelajaran yang dapat diterapkan untuk menerjemahkan kurikulum. Guru dapat secara terus menerus memikirkan bagaimana kualitas pertanyaan yang mampu dipecahkan oleh siswa dalam pembelajaran. Pertanyaan tersebut diharapkan dapat memotivasi siswa untuk mempertahankan minat belajarnya secara konsisten. Guru juga memikirkan bagaimana menggunakan debat agar mampu memaksimalkan partisipasi siswa dalam diskusi dan bagaimana mendorong siswa untuk dapat membuat catatan yang baik dan melakukan refleksi diri.
LS Memungkinkan Guru Melihat Hasil Pembelajaran Sendiri Melalui Respon Siswa dan Tanggapan Para Kolega LS memberi kesempatan kepada guru melihat hasil pembelajarannya sendiri melalui respon siswa dan tangapan para kolega. Data yang diberikan oleh kolega menjadi “cermin” bagi guru yang melaksanakan LS. Kolega dapat membantu guru mencatat kegiatan diskusi dalam kelompok kecil, menghitung jumlah siswa yang angkat tangan, atau mencatat pertanyaan dan jawaban guru. Guru pelaksana LS dapat pula memita kepada kolega untuk mencatat interaksi siswa, misalnya difokuskan pada interaksi 3 orang siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah, dan menilai karya mereka. Dengan cara ini, guru dapat melihat bagaimana siswa mengalami pembelajaran yang efektif.
C.   Manfaat  Metode Lesson Study
Lesson study memberikan banyak hal yang menurut para peneliti dianggap efektif dalam mengubah praktik mengajar guru seperti :
a.       Penggunaan materi pembelajaran yang konkrit untuk memfokuskan pada permasalahan agar lebih bermakna, mengambil konteks pembelajaran dan pengalaman guru yang eksplisit,
b.      Memberikan dukungan pada guru dalam hubungan sejawat. Dengan kata lain, lesson study memberikan banyak kesempatan kepada para guru untuk membuat bermakna ide-ide pendidikan dalam praktik mengajar mereka, untuk mengubah perspektif mereka tentang pembelajaran, dan untuk belajar mengamati praktik mengajar mereka dari perspektif siswa.
c.       Dalam lesson study, kita melihat apa yang terjadi dalam pembelajaran lebih objektif dan itu membantu kita memahami ide-ide penting tanpa harus lebih memperhatikan isu-isu lain dalam kelas kita” (Murata & Takahashi, 2002). Menurut Lewis (Akihito Takashi, 2006), lesson study mempromosikan dan mengelola kerja kolaboratif antar guru dengan memberi dukungan dan intervensi sistematik. Selama lesson study, para guru berkolaborasi untuk :
1.      merumuskan tujuan-tujuan jangka panjang untuk pengembangan dan belajar siswa
2.      merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang berdasar pada penelitiandan observasi untuk mengaplikasikan tujuan-tujuan jangka panjang ke dalam praktek-praktek kelas untuk isi-isi akademik khusus
3.      mengobservasi secara hati-hati tingkat belajar siswa, keterlibatan mereka, dan perilaku mereka selama pembelajaran
4.      melaksanakan diskusi setelah pembelajaran bersama kelompok kolaboratif mereka untuk mendiskusikan dan merevisi pembelajaran yang sesuai.
d.      Melalui Lesson Study guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya,
e.       Melalui Lesson Study guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota lainnya, dan
f.       Guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study
D.    Implementasi lesson study dalam pembelajaran
Oleh karena Lesson Study dapat meningkatkan profesionalisme guru, maka pelaksanaan LS secara berkesinambungan diyakini dapat meningkatkan praktik-praktik pembelajaran sehari-hari. Peningkatan praktik-praktik pembelajaran akan bermuara pada peningkatan kualitas proses dan produk belajar siswa.
Secara umum terdapat tiga langkah kegiatan lesson study, yaitu (1) tahapperencanaan, (2) tahap pelaksanaan (Plan), dan (3) tahap refleksi (See).
 Berikut diuraikan langkah-langkah Metode Pembelajaran Lesson study.
1. Tahap Perencanaan
Langkah pertama untuk memulai lesson study adalah pembentukan kelompok atau tim lesson study. Kelompok ini dapat dibentuk di tingkat sekolah, di tingkat wilayah, atau tingkat yang lebih luas sesuai dengan keperluan dan kemungkinan keterlaksanaannya. Heterogenitas anggota kelompok perlu dipertimbangkan dalam pembentukan kelompok lesson study.
Keaggotaan yang beragam dari segi usia, latar belakang pendidikan, dan pengalaman mengajar akan lebih memperkaya tim dan memungkinkan anggota kelompok saling memperoleh keuntungan karena terjadinya proses saling belajar antaranggota kelompok. Anggota kelompok lesson study tersebut di antaranya 5 – 6 guru, kepala sekolah, dan pakar perguruan tinggi. Pembentukan kelompok lesson study dapat juga diprakarsai oleh kepala sekolah, dinas pendidikan, atau pakar dari perguruan tinggi yang memandang perlunya peningkatan kualitas pembelajaran melalui lesson study.
Pembentukan kelompok lesson study dapat diprakarsai oleh salah seorang guru yang mempunyai masalah terkait pembelajaran yang telah dilakukan. Pembentukan kelompok lesson study dimaksudkan sebagai upaya untuk memperbaiki pembelajaran tersebut. Masalahmasalah tersebut perlu diidentifikasi dengan jelas untuk memudahkan pemecahannya. Masalah-masalah tersebut di antaranya terkait dengan aktivitas siswa, hasil belajar siswa, respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran, dan sebagainya. Masalah-masalah yang terdaftar tersebut kemudian diseleksi dan diurutkan berdasarkan skala prioritas dalam mengatasinya, kemudian secara bersama-sama dicarikan solusi untuk mengatasi masalah tersebut.
Seorang guru yang mempunyai metode, strategi, atau media pembelajaran baru yang dimungkinkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dapat juga memprakarsai terbentuknya kelompok lesson study. Pembentukan kelompok dimaksudkan untuk mendukung implementasi ide guru tersebut, menyempurnakannya, selain dimaksudkan untuk menyebarluaskan. Setelah kelompok terbentuk, selanjutnya perlu dipersiapkan perangkat pembelajaran yang akan digunakan. Perangkat pembelajaran dimaksud di antaranya adalah silabus, rencana pembelajaran, lembar kegiatan siswa (LKS), buku siswa, dan buku guru. Perlu juga disiapkan instrumen penelitian yang digunakan untuk mengambil data untuk kepentingan penelitian atau sebagai dasar untuk melakukan refleksi. Instrumen penelitian tersebut di antaranya adalah lembar observasi kegiatan pembelajaran, angket tanggapan siswa, dan tes hasil belajar jika dianggap perlu.
Perangkat pembelajaran dan instrument penelitian tersebut disusun bersama-sama oleh anggota kelompok. Pembagian tugas perlu dilakukan demi efisiensi. Perangkat pendukung lainnya yang perlu disiapkan, jika memungkinkan, adalah kamera video yang digunakan untuk mendokumentasikan pelaksanaan pembelajaran. Pendokumentasian lebih dimaksudkan untuk mempermudah pelaksanaan refleksi, selain dapat juga untuk menyebarluaskan hasil lesson study.
Rencana pembelajaran perlu disusun secermat dan sejelas mungkin agar mempermudah guru model yang akan mengimplementasikannya. Dalam hal ini rencana pembelajaran (RP) diartikan sebagai rencana kegiatan guru yang berisi skenario pembelajaran tahap demi tahap mengenai hal-hal yang akan dilakukakan guru bersama siswa terkait topik atau pokok bahasan yang akan dipelajari demi mencapai kompetensi standar yang telah ditentukan. Rencana pembelajaran tidak diartikan sebagai laporan yang harus disusun dan dilaporkan kepada kepala sekolah atau pihak lain, melainkan sebagai rencana “individual” guru yang memuat langkah-langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas. Karena lebih bersifat individual, maka tidak ada format rencana pembelajaran yang baku. Rencana pembelajaran dapat difungsikan sebagai pengingat bagi guru mengenai hal-hal yang harus dipersiapkan, mengenai media apa yang akan digunakan, strategi pembelajaran yang dipilih, system penilaian yang akan ditentukan, dan hal-hal teknis lainnya. Setelah semua perangkat pembelajaran, instrumen penelitian, dan perangkat pendukung lainnya disiapkan, selanjutnya memilih salah satu guru yang akan dijadikan guru model, yang akan mengimplementasikan rencana pembelajaran yang telah disusun. Selain itu, perlu juga dipilih kelas yang akan dijadikan tempat mengimplementasikan. Perlu dicatat bahwa kelas yang dipilih tidak harus sama dengan\ kelas yang biasanya diajar oleh guru model.
2. Tahap Pelaksanaan
Berdasarkan  rencana pembelajaran yang telah disusun guru,  model melaksanakan pembelajaran di kelas yang telah ditentukan, sementara anggota lain bertindak sebagai observer, yang mengamati proses pembelajaran dengan menggunakan instrumen penelitian yang telah dikembangkan. Dengan demikian, bersamaan dengan dilaksanakannya proses pembelajaran, dilakukan pengambilan data yang diperlukan unutk kepentingan refleksi. Hal –hal yang perlu mendapat focus perhatian ketika mengobservasi, menurut Djamilah (2006), di antaranya adalah ketepatan prediksi waktu, pengelolaan kelas, keterlaksanaan silabus, aktivitas siswa, dan ketercapaian tujuan untuk setiap tahap kegiatan pembelajaran.
Dimungkinkan, guru  mengubah strategi pembelajaran sesuai tuntutan keadaan. Reaksi atau respon siswa yang tak terduga, seperti diskusi yang tidak bisa berjalan dengan baik, tidak satupun soal yang disiapkan dapat dikerjakan siswa, atau tidak ada siswa yang bersedia menjelaskan jawabannya di depan kelas perlu diantisipasi dengan cepat oleh guru model. Perlu dicatat bahwa selain guru model, tidak diperbolehkan mengintervensi proses pembelajaran. Di kelas, hanya terdapat satu komando, yaitu guru model.
3. Kegiatan Refleksi
Segera setelah selesai pembelajaran, dilakukan postclass discussion atau kegiatan refleksi. Refleksi diikuti oleh semua anggota kelompok yang mengkaji hasil pengamatan setiap guru dan hasil rekaman proses pembelajaran. Kegiatan Menurut Djamilah (2006), dengan pemahaman bahwa lesson study adalah forum untuk saling belajar dalam upaya mengembangkan kompetensi masing-masing anggota tim, maka semangat dalam tahap refleksi ini adalah secara bersama-sama menemukan solusi untuk masalah yang muncul agar pembelajaran berikutnya dapat dipersiapkan dan dilaksanakan dengan lebih baik.
Dengan demikian, perlu dipahami bahwa kegiatan refleksi bukan dimaksudkan untuk menilai kemampuan mengajar guru model. Meskipun semangat yang terkandung di dalam lesson study adalah saling belajar, namun mengingat budaya kita yang belum terbiasa dan tidak mudah untuk menerima kritik secara langsung, maka disarankan fokus evaluasi adalah pada bagaimana respon siswa terhadap pembelajaran yang dilaksanakan. Oleh karena itu, guru lain sebagai observer/pengamat diharuskan mendengarkan, mengamati, dan mencatat setiap respon siswa dengan rinci dan teliti.
Diharapkan, guru model dapat menarik kesimpulan atas pembelajaran yang ia laksanakan, berdasarkan hasil evaluasi terhadap respon siswa dari hasil pengamatan guru lain dan dari hasil rekaman video. Dengan memperhatikan bagaimana siswa belajar, diharapkan guru yang bersangkutan menemukan kekurangan dan kelebihannya dalam mengajar.
E.   Kelebihan Metode Lesson Study
Kelebihan dari metode ini adalah, :
a.       Peran guru yang dapat berubah-ubah: siapapun dapat berperan sebagai guru pengajar dalam satu waktu dan menjadi guru pengamat di lain waktu. Pergantian peran ini menciptakan rasa saling mengerti serta mendukung di antara guru dan secara efektif meningkatkan mutu proses belajar-mengajar.
b.      Metode ini dapat diterapkan di setiap bidang, mulai dari seni, bahasa, sampai matematika dan olahraga pada setiap tingkat kelas.
c.       Dapat dilaksanakan antar / lintas kelas
F.    Bagaimana Mengatasi Kendala Implementasi Lesson Study
Berbagai kendala yang mungkin dihadapi ketika mengimplementasikan lessonstudy di antaranya adalah
1.       Adanya persepsi yang keliru tentang lesson study,
2.      Penyusunan  jadwal,
3.      Pendanaan,
4.      Setting kelas,
5.      Dan pendokumentasian.
Untuk menghindari adanya kesalahan persepsi tentang lesson study, pada tahap perencanaan perlu diadakan penyamaan persepsi antaranggota kelompok bahwa lesson study lebih dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, dan bukan untuk menilai guru.
Menyusun jadwal, baik untuk pertemuan koordinasi persiapan pelaksanaan, pelaksanaan lesson study itu sendiri, maupun untuk melaksanakan refleksi dan menyusun temuan, yang melibatkan 4 – 6 guru, tidaklah mudah. Itulah sebabnya pelibatan kepala sekolah sejak awal perencanaan lesson study sangat penting, tidak hanya untuk mendapatkan kemudahan dalam pengaturan jadwal, tetapi juga diharapkan kepala sekolah memberikan dukungannya dalam bentuk pendanaan untuk pelaksanaan setiap kegiatan dalam lesson study. Kesepakatan tentang jadwal, pendanaan, dan “aturan main” dari awal akan menghindari masalah yang tidak diinginkan.
Kesimpulan
Lesson study merupakan alternatif pembinaan profesi guru melalui aktivitasaktivitas kolaboratif dan berkelanjutan. Prinsip kolaborasi akan memfasilitasi para guru untuk membangun komunitas belajar yang efektif dan efesien, sedangkan prinsip berkelanjutan akan memberi peluang bagi guru untuk menjadi masyarakat belajar sepanjang hayat. Dua hal ini sangat penting bagi guru dalam menjalankan perannya sebagai sosok panutan dan yang dipercaya oleh siswa di sekolah.
Implementasi lesson study secara berkelanjutan akan membantu guru mempercepat peningkatan profesionalismenya. Indikator-indikator peningkatan profesionalisme guru melalui implementasi lesson study, adalah pengembangan rancangan dan pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang selalu menuntut dilakukannya inovasi pembelajaran dan asesmen, siklus plan-do-see yang memungkinkan guru untuk dapat mengembangkan pemikiran kritis dan kreatif tentang belajar dan pembelajaran, proses sharing pengalaman berbasis pengamatan pembelajaran memberi peluang bagi guru untuk mengembangkan keterbukaan dan peningkatan kompetensi sosialnya, dan proses-proses refleksi secara berkelanjutan adalah suatu ajang bagi guru untuk meningkatkan kesadaran akan keterbatasan dirinya.
Lesson study dapat diimplementasikan dalam pembelajaran melalui siklus plando-see dengan enam tahapan, yaitu membentuk kelompok lesson study, menentukan fokus kajian, merencanakan research lesson, pelaksanaan pembelajaran dan observasi aktivitas pembelajaran, mendiskusikan dan menganalisis hasil observasi, dan refleksi dan penyempurnaan. Tahapan-tahapan kegiatan lesson study tersebut dapat
memfasilitasi peningkatan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar siswa
 
DAFTAR PUSTAKA
Bill Cerbin & Bryan Kopp. A Brief Introduction to College Lesson Study.LessonStudyProject. online: http ://www.uwlax.edu/sotl/lsp/index2.htm
Catherine Lewis (2004) Does Lesson Study Have a Future in the United States?. Online: http://www.sowi-online.de/journal/2004-1/lesson_lewis.htm
Wikipedia.2007. Lesson Study. Online: http://en.wikipedia.org/wiki/Lesson_study
Yoshida, M. 2002. Developing Effective Use of the Blackboard through Lesson Study.
ml.
Wang-Iverson, P. 2002. Why Lesson Study. http://www.rbs.org/lesson_study/
confenrence/2002/paper/wang.shtml.

Selasa, 26 Januari 2016

JAUHKAN PENDIDIKAN YANG MENGHUKUM DI INDONESIA

JAUHKAN PENDIDIKAN YANG MENGHUKUM DI INDONESIA
Ditulis oleh: Prof.Dr. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)


Lima belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal, dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya, tulisan itu buruk. Logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat.
  • "Maaf, Bapak dari mana?"
  • "Dari Indonesia," jawab saya.
Dia pun tersenyum.
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
  • "Saya mengerti," jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. "Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini," lanjutnya.
  • "Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!", dia pun melanjutkan argumentasinya.
"Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun6 untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat," ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa6 mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai "A", dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Padahal, saat menempuh ujian program doktor di luar negeri, saya dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan para dosen penguji memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun, suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya, sedangkan penguji yang lainnya tidak ikut menekan. Melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
***
Etikanya, seorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan. Tapi yang sering terjadi di tanah air justru penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukannya melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga cenderung menguji dengan cara menekan. Ada semacam unsur balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Lantas saya berpikir, pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakter hasil didikan guru-gurunya sangat kuat: yaitu karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. "Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan," ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal. Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. "Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti."
Malam itu, saya pun mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa bersalah karena telah memberinya penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya justru mengatakan bahwa "gurunya salah". Kini, saya mampu melihatnya dengan kacamata yang berbeda. Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: Rotan pemukul, dilempar kapur atau penghapus oleh guru, setrap, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata ancaman: Awas...; Kalau...; Nanti...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah. Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin membuat kita lebih disiplin. Namun, juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, kecerdasan manusia dapat tumbuh, tetapi sebaliknya juga dapat menurun. Ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi, juga ada orang yang "tambah pintar" dan ada pula orang yang "tambah bodoh". Mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah anak Indonesia untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi cap jelek... Semoga bermanfaat. Aamiin.

Senin, 08 Juni 2015

Literasi Kelas Awal (Membaca dan Menulis)



Perkembangan Literasi Kelas Awal (Membaca dan Menulis)

Tahap
Membaca
Menulis
Emergent

  • Memperhatikan lingkungan kelas yang kaya akan bahan cetakan.
  • Menunjukkan perhatian pada buku-buku.
  • Mencoba untuk membaca.
  • Menggunakan media gambar dan pola-pola yang dapat diprediksi dari buku untuk menceritakan kembali cerita.
  • Membaca ulang teks yang familiar dengan pola-pola yang dapat diprediksi.
  • Mengidentifikasi berbagai tulisan tentang nama-nama.
  • Mengenali 5-20 kata-kata yang familiar atau berfrekuensi tinggi.
  • Membedakan tulisan dengan gambar. 
  • Menulis huruf, seperti bentuk-bentuk tulisan cakar ayam.
  •  Mengembangkan pemahaman langsung. 
  • Menunjukkan perhatian pada tulisan.Menulis huruf pertama dan huruf akhir.
  •  Menulis 5-20 kata-kata yang familier atau sering muncul.Menggunakan kerangka kalimat untuk menulis kalimat.
Pemula

  • Mengidentifikasi nama-nama huruf dan bunyinya.
  • Memasangkan kata-kata yang diucapkan pada tulisan.
  • Menyamakan tulisan dengan bacaan.
  • Menggunakan permulaan, pertengahan, dan akhir dari bunyi bacaan (intonasi)
  • Memadukan pengetahuan dalam sistem bacaan yang benar.
  • Mengoreksi sendiri diantara bacaanMembaca dengan pelan tahap demi tahap
  •  Membaca ulang secara oral
  •  Menjelaskan inti bacaan
  • Menggunakan prediksi secara beralasan.
  • Menulis dari kiri ke kanan.
  • Dapat menulis sedikit atau banyak tulisan.
  • Menulis satu atau lebih kalimat.
  • Menambahkan judul.
  • Dapat mengeja banyak kata.
  • Menulis suku kata dari komposisi kalimat.
  • embiasakan penulisan huruf besar pada awal kalimat.Mengulang ucapan saat menulis.
  •  
Lancar
 

  • Dapat mengidentifikasi arti kata.
  • Membaca dengan ekspresi.
  • Membaca dengan jarak 100 kata per menit atau lebih.
  • Membaca dalam hati.
  • Mengidentifikasi kata-kata yang tidak familiar (asing).
  • Dapat menguatkan efektivitas variasi dalam bacaan
  • Dengan pengetahuan tekstur dapat mendukung pemahaman.
  • Menggunakan perbedaan pada saat membaca kata.
  • Membiasakan proses menulis sampai akhir
  • Menulis komposisi dengan lebih dari satu paragraf
  • Menambahkan infleksi pada akhir kalimat.
  • Mererapkan aturan penggunaan huruf besar
  • Dapat mengeja banyak kata
  • Menulis suku kata dari komposisi kalimat
  • Membiasakan penulisan huruf besar pada awal kalimat
  • Mengulang ucapan saat menulis


Rekomendasi Pembelajaran Literasi Kelas Awal

Membaca
Menulis
Tahap Emergent :
  • Memanfaatkan lingkungan yang kaya akan media cetak.
  • Menggunakan visual/gambar.
  • Membaca nyaring untuk siswa (membacakan).
  • Membaca cerita dari buku besar/bergambar.
  • Mendramatisasikan teks cerita dengan menggunakan bahasa.
  • Menggunakan alfabet secara rutin dalam pembelajaran.
  • Mengambil cerita anak dengan pendekatan pengalaman berbahasa.

Tahap Emergent :
  • enulis menggunakan krayon dan pensil.
  • Mempelajari teknik-teknik menulis (cara memegang pensil, jarak mata, dan posisi tubuh).
  • Menulis interaktif dalam kelompok besar dan kecil.
  • Menulis nama, tanggal setiap kegiatan pembelajaran.
  • Menulis kata-kata familiar yang ada di dalam kelas dalam bentuk daftar.
  • Menjaga ingatan apa yang ditulis untuk kemudian dapat dibaca kembali.
Tahap Pemula:
  • Membaca peta, cerita bergambar, atau lagu untuk memahaminya.
  •  Membaca leaflet.
  •  Membaca ulang buku yang sudah dibaca.
  •  Membawa buku untuk dibaca bersama orang tuanya.
  • Mempelajari 100 kata-kata yg sering muncul.
  • Menemukan teks cerita atau buku-buku informasi.
  • Belajar memprediksi, menghubungkan, kroscek dan strategi lainnya.
  • Membelajari elemen struktur cerita.
  • Siswa memiliki tulisan dalam membaca dan berpartisipasi dalam percakapan.
Tahap Pemula:
  • Menulis interaktif dalam konteks menulis bahasa tulisan.
  • Menghasilkan persiapan harian untuk menulis berbagai variasi tujuan dan menggunakan genre yang berbeda.
  • Mengembangkan proses menulis
  • Mengembangkan gagasan tunggal dalam karangannya.
  • Menyiapkan pra-menulis karangan.
  • Menuliskan 100 kata-kata yang sering muncul.
  • Menulis singkatan.
  • Menulis dengan memperhatikan huruf besar.

Tahap Lancar
  • Berpartisipasi dalam siklus sastra.
  • Berpartisipasi dalam bengkel membaca.
  • Mempelajari tentang genre dan fitur teks lainnya.
  • Melibatkan anak dalam menulis dan study genre.
  •  Memahami teks dan membedakan dengan teks lainnya.
  •  Menggunakan kecakapan siswa dalam strategi pemahaman.
  • Mengapreasiasi buku-buku melalui diskusi dan tulisan.
Tahap Lancar
  • Berpartisipasi dalam bengkel menulis.
  • Menggunakan proses menulis.
  • Merevisi dan mengedit tulisan.
  • Keterampilan memparagrafkan teknik pengucapan.
  • Menemukan sinonim, homonim, akar kata, afiks, menggunakan kamus, dan ensiklopedi.