Rabu, 26 November 2014

Penataan Ruang Kelas yang Membelajarkan



Penataan Ruang Kelas yang Membelajarkan
Oleh R. Ahmad Sarjita, M.MPd

    Berbagai upaya terus dilakukan oleh para guru untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya, mulai dari pelatihan, study banding, mengikuti kkg dsb. Namun belum bisa meningkatkan hasil belajar siswa yang optimal. Melalui tulisan ini saya sampaikan alternative penataan ruang kelas yang membelajarkan di sekolah. upaya itu bisa dilakukan dengan cara:
     
     1. Lingkungan kelas yang literat
Membuat kelas menjadi lingkungan kelas yang literat, yaitu lingkungan kelas yang menyediakan berbagai tulisan, gambar dan alat baik dua dimensi maupun tiga dimensi yang bisa dibaca dan digunakan oleh siswa untuk belajar.



      2.      Lingkungan kaya sumber belajar
Memenuhi lingkungan kelas dengan berbagai sumber belajar akan sangat membantu siswa mendapatkan sumber belajar dengan mudah. Sumber belajar yang disediakan dikelas tidak harus buatan pabrik yang mempunyai nilai harga yang mahal, namun sumber belajar yang dibuat oleh guru dan siswa jauh lebih terjangkau dan mudah didapatkan.

     3.      Lingkungan kelas sebagai showcase
Lingkungan kelas yang tertata baik akan memungkinkan siswa termotivasi memproduksi hasil belajar. Motivasi itu muncul ketika guru menghargai setiap karya yang dihasilkan siswa. Penghargaan itu bisa diberikan dengan berbagai cara, bisa diberi komentar, diberi symbol dan bisa juga dipajangkan.  Hasil karya siswa yang dipajangkan memiliki nilai pendidikan yakni menumbuhkan bangga terhadap karyanya dan memunculkan keinginan untuk berkarya lagi. Oleh sebab itu guru perlu menata karya siswa kedalam pajangan sebagai media pamer atau unjuk karya (show case)
Contoh kelas yang dirancang untuk show case di SD Negeri 3 Tangkil, Sragen


    4.      Lingkungan kelas sebagai taman belajar
Lingkungan kelas yang nyaman juga bisa menumbuhkan gairah dalam belajar. Penataan tempat duduk yang memudahkan siswa berisnteraksi memberi keluluasaan siswa mengakses berbagai sumber belajar di dalam kelas. Interaksi yang diharapkan terjadi dalam kelas adalah interaksi siswa dengan guru, siswa dengan siswa, siswa dengan kelompok, siswa dengan sumber belajar dan kelompok – kelompok.
Jika guru mampu menciptakan lingkungan kelas pada no 1, 2 dan 3 maka lingkungan kelas yang nyaman akan terwujud. Amin ..

Jumat, 02 Mei 2014

Ayo Menulis

Jurnal Pilar Pendidikan

Rabu, 02 April 2014


Menciptakan Lingkungan Belajar yang Efektif


Lingkungan belajar di sekolah dan  kelas terdiri atas lingkungan fisik dan  non  fisik yang dapat mempengaruhi pembelajaran. Pembelajaran dapat ditingkatkan dan didukung jika lingkungannya dikelola secara efektif. Pertimbangan penting dalam mengelola lingkungan fisik pembelajaran dan  menciptakan lingkungan belajar  yang efektif adalah fleksibilitas dan  kemudahan akses.

Dari segi  fleksibilitas,  meja,  kursi,  dan  perabot lain hendaknya diatur  secara luwes sesuai dengan kegiatan belajar yang dipilih. Misalnya, ketika kegiatan belajar me- makai kerja kelompok maka meja dan kursi perlu diatur sedemikian rupa sehinga guru maupun siswa dapat bergerak dalam ruangan dengan aman dan  efisien, tanpa terhalang oleh kursi dan meja. Tikar dapat digunakan untuk kegiatan permainan.

Dari segi kemudahan akses, berbagai sumber daya pembelajaran yang praktis (misalnya buku-buku, peta, bola dunia, alat peraga matematika, dan lain-lain) hendak- nya disimpan dengan baik dan tersedia serta mudah diakses oleh guru dan siswa.

 Sumber daya pembelajaran lain yang berupa tulisan/gambar atau pajangan hasil kerja anak yang merupakan lingkungan belajar visual juga perlu diatur. Pajangan hasil karya anak dapat menjadi contoh yang baik bagi anak lainnya dan dapat men- dorong anak untuk belajar. Perlu diingat bahwa pemajangan terutama ditujukan pada anak supaya anak bisa mendapatkan manfaat. Karena itu tingkat keterbacaan pajangan harus dilihat dari sudut pandang anak (misalnya apakah posisi pajangan terlalu tinggi untuk anak-anak).

Label-label di jendela, kursi dan benda lainnya di ruang kelas membantu menam- bah kosakata dari benda yang dapat dilihat anak. Label dapat ditulis dalam bahasa Indonesia, bahasa daerah, atau bahasa asing yang dipelajari untuk membantu anak beradaptasi dengan lingkungan belajarnya yang baru.

Gambar dan poster dapat menuntun dan mendukung berbagai kegiatan pembela- jaran. Gambar atau poster dapat berisi petunjuk melaksanakan tugas, demonstrasi tentang prosedur, contoh-contoh yang ditawarkan atau pesan yang mengingatkan anak untuk menjadi pelajar yang efektif.

Selain lingkungan fisik seperti diatas, lingkungan belajar juga berupa lingkungan non fisik, yang  terwujud  dalam  interaksi  dan  hubungan di kelas  dan  sekolah.

 Interaksi dan Hubungan

Mutu interaksi dan hubungan antara guru dan siswa ikut berperan dalam mencip- takan kondisi belajar yang efektif. Guna mendukung kondisi belajar yang efektif, interaksi dan hubungan yang ada haruslah bersifat:

     Jelas dan  singkat

     Positif dan  suportif

     Adil dan  tidak bias/timpang

Instruksi atau peragaan yang diberikan oleh guru harus jelas dan ringkas. Ini berar- ti berbicara dengan suara yang jelas, menggunakan bahasa yang dapat dipahami anak, dan menyesuaikan dengan lamanya daya konsentrasi anak.

Interaksi dan hubungan yang bersifat positif dan suportif akan mengarahkan anak pada perilaku yang lebih baik, meningkatkan rasa percaya dirinya, serta menunjang peningkatan prestasinya. Penggunaan ancaman, kata-kata yang merendahkan, atau tindak kekerasan terhadap anak adalah pelanggaran terhadap hak anak dan meru- pakan tindak kriminal menurut hukum yang berlaku di Indonesia.

Guru juga harus bertindak adil dan tidak bias, memperlakukan semua anak dengan sama, tanpa memandang perbedaan jenis kelamin, kemampuan, latar belakang ke- luarga maupun agama.

Selain berinteraksi dengan cara yang baik dengan siswa, guru perlu menciptakan interaksi dan hubungan antar anak yang sehat karena interaksi dan hubungan antar anak juga membantu menciptakan kondisi belajar yang efektif.

Anak-anak akan meniru perilaku gurunya. Jika guru memperlakukan anak dengan hormat dan tanpa kekerasan, anak-anak juga akan memperlakukan satu sama lain- nya dengan cara yang sama.

Melalui kegiatan kelompok, anak belajar untuk menghormati pendapat setiap orang, menunggu giliran dan menolong satu sama lain.