Senin, 11 Juni 2012

Kajian Kritis Pemanfaatan ICT untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran di Sekolah Dasar



Kajian Kritis
Pemanfaatan ICT untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran
di Sekolah Dasar

A.            PENDAHULUAN
Tulisan ini menyajikan tentang pendidikan di Indonesia, secara khusus yaitu tentang bagaimana memanfaatkan ICT (Information Comunication Technologi) pada proses pembelajaran di sekolah dasar oleh para guru.
Buku  berjudul “ Menghubungkan Pembelajaran dengan Teknologi yang ditulis oleh Sharon Adams dan Mary Burns dari Southwest Educational Development Laboratory Austin, TX USA ini dipilih karena memberikan gambaran secara jelas bagaimana sekolah khususnya guru dapat memanfaatkan ICT untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Disisi lain Maraknya sekolah – sekolah mengadakan komputer secara besar – besaran dengan tujuan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah, ternyata keadaan tersebut berbalik dari tujuan semula yakni pengadaan komputer dilakukan agar mendapatkan pengakuan dari wali murid dan masyarakat bahwa sekolah tersebut terkesan modern.

B.      RANGKUMAN

Angin perubahan telah merevolusi pendidikan di seluruh dunia. Dari universitas-universitas dan institusi-insititusi penelitian, penelitian pendidikan, psikologi kognitif dan neurologi telah menawarkan pandangan baru tentang bagaimana manusia belajar. Dan dari pasar kerja global, infusi teknologi telah meredefinisikan ketrampilan kerja dan harapan masyarakat tentang makna individu yang berpendidikan.
Secara lebih meluas di ruang-ruang kelas di setiap negara di dunia, para guru menggunakan teknologi untuk membantu mereka menghadapi tantangan yang diberikan oleh perubahan.      Konstruktivisme, sebuah teori belajar, memberikan kerangka kerja yang berharga mengenai penggunaan komputer dan teknologi bentuk lain dalam cara yang produktif dan menarik. Teknologi dapat memperkaya cara para siswa dalam menggunakan sumber daya pembelajaran yang bervariasi dan membantu mereka memperoleh pemahaman tentang dunia mereka.
Dibantu oleh para guru dan teman-teman mereka sebagai siswa individual, para siswa ini dapat menggunakan teknologi untuk meningkatkan keterhubungan diri dengan sumber daya pembelajaran di luar dinding sekolah. Walaupun demikian, pada awalnya komputer bukanlah sarana pembelajaran sehingga sebagian besar guru membutuhkan saran-saran mengenai bagaimana menggunakannya. Kajian ini sedikit memberi wawasan kepada para pembaca khususnya para guru untuk mempelajari lebih dalam pemanfaatan ICT dalam pembelajaran. Kajian ini bukanlah manual siap pakai, namun sebuah inspirasi yang perlu didiskusikan kembali  tentang penggunaan teknologi dalam lingkungan yang mendukung pembelajaran.
Information and Communications Technologies (ICT) adalah alat-alat seperti radio, televisi, handphone dan komputer. Dalam buku ini, kita membatasi “teknologi” untuk hanya meliputi komputer dan alat lain yang melekat dengan komputer. Inti kupasan buku ini adalah :
·           Diawali dengan selayang pandang tentang prinsip-prinsip pembelajaran yang berdasarkan teori konstruktivisme,
·            Bab 1 dan Bab 2 mempresentasikan aktivitas kelas tanpa teknologi.
·           Bab 3 dan Bab 4 mempelajari metode-metode bagaimana komputer dapat mendukung pembelajaran dalam kelas.
·           Bab 5 adalah ikhtisar praktis untuk tanya-jawab, dan hal-hal yang perlu dipertimbangkan untuk memperkenalkan teknologi ke dalam lingkungan pembelajaran. Bagian yang mencantumkan sumber daya-sumber daya pembelajaran juga disediakan bagi mereka yang ingin memperoleh informasi lebih jauh tentang teknologi dan teori konstruktivisme. 
Sekilas, kemungkinan perbedaannya tidak langsung terlihat. Kedua model kelas sama-sama mengikuti kurikulum, keduanya memasukkan metode membaca teks, dan keduanya menggunakan diskusi yang dipimpin oleh guru. Namun, apabila kita melihat lebih seksama, strategi pembelajaran yang digunakan di kelas ke-2, ternyata disusun berdasarkan cara-cara dan proses belajar individu.
  • Guru bertanya pada siswa tentang pengetahuan yang mungkin telah mereka kuasai sebelumnya, pertama dengan cara berbagi pengalaman sehubungan dengan materi pembelajaran (“Apa yang kamu ketahui tentang daerah ini?”), kemudian dengan pelaksanaan struktur aktivitas itu sendiri. Siswa harus menggunakan ingatan akan perjalanan sebelumnya untuk merencanakan perjalanan yang akan datang.
  • Dengan perjalanan sebagai pedoman untuk mempelajari materi, buku teks menjadi sumber informasi yang relevan yang dapat diaplikasikan ke dalam rencana yang dibuat siswa. Mereka dapat mengasimilasi informasi yang sesuai dengan kerangka kerja. Apabila mereka menemukan informasi yang tidak sesuai dengan pemahaman mereka akan daerah tersebut (misalnya, “Saya tidak tahu bahwa di Solo ada sungai.”), mereka harus memutuskan untuk mengakomodasi informasi baru ini, atau menolaknya sebagai sesuatu yang tidak relevan atau salah. Guru harus dapat mengungkap keputusan-keputusan internal semacam ini. Kalau tes atau ulangan-ulangan dapat memonitor pemahaman siswa, ada metode-metode efektif lainnya yang dapat digunakan seperti: i) merangsang siswa untuk aktif menjelaskan dan mempresentasikan hasil kerja atau strategi mereka, dan ii) mendengarkan percakapan kelompok kecil atau diskusi kelompok besar.
  • Sumber-sumber otentik (misalnya, surat koresponden dari daerah tersebut, informasi dari wawancara) dapat menambah materi yang dipaparkan dalam teks.
  • Para siswa secara aktif mencari informasi tentang tempat tujuan dan hal-hal yang akan ditemui selama perjalanan. Mereka juga dapat merefleksikan usaha mereka dengan cara menulis jurnal harian. 
  • Presentasi dari portofolio siswa akan memberikan peluang secara formal untuk interaksi sosial. Hal ini memberi kesempatan kepada siswa untuk memaparkan hasil kerja dan mendiskusikannya siswa lain. Walaupun tidak dibahas dalam skenario ini, percakapan informal adalah cara yang sama pentingnya bagi siswa untuk mendiskusikan proyek mereka. Guru dapat merencanakan aktivitas kelompok kecil yang dapat memberikan peluang bagi siswa untuk berbagi hasil kerja.
  • Dengan memberikan tanggung jawab kepada siswa untuk menyelesaikan proyek, guru akan menawarkan konteks yang menarik dan relevan, memberikan struktur aktivitas untuk dipenuhi, dan meningkatkan rasa nyaman siswa dan rasa ‘keterhubungan’ siswa  dengan kurikulum. Karena belajar adalah proses yang dikendalikan secara internal, seorang siswa harus dapat merasakan keterhubungan ini untuk meningkatkan tingkat pemahaman mereka.
Melihat kembali kelas pertama, kita menyadari bahwa sebagian besar materi kurikulum ternyata dikendalikan oleh guru.  Siswa bukan peserta, tetapi pengamat. Games atau permainan-permainan bisa menjadi sarana yang berharga untuk membantu siswa mengeksplorasi materi, tetapi perlu diingat bahwa permainan yang hanya membutuhkan ingatan tentang fakta-fakta sederhana dan definisi (seperti teka-teki mencari kata), tidak dapat meningkatkan tingkat pemikiran kita.
C.      KRITIK
Buku karya  Sharon Adams dan Mary Burns sangat bagus dan bermanfaat. Bagi sekolah – sekolah yang sudah memiliki peralatan ICT ( camera digital, handycam, computer, LCD proyektor dll).  Buku ini bisa dipakai untuk mengembangkan pembelajaran yang berbasis ICT. Yang terpenting adalah keinginan sekolah untuk memanfaatkannya. Yang perlu penulis sarankan pada buku ini adalah :
Perlu ditambahkan model pembelajaran yang memanfaatkan ICT secara utuh yang meliputi 4 komptensi guru yang harus dikuasi antara lain, hal ini sejalan dengan PP No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses :
1.      Merencanakan Pembelajaran
Bagaimana format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ?
2.      Menerapkan  Pembelajaran
Beberapa contoh aktifitas yang menggambarkan proses pembelajaran dengan menggunakan / memanfaatkan ICT.
3.      Mengelola Kelas
Bagaimana penataan ruang kelas jika kelas tersebut mau menerapkan ICT dalam pembelajaran
4.      Mengevaluasi ( melakukan penilaian)
Bagaimana melakukan penilaian apakah unsur kompetensi menggunakan ICT juga dimasukan penilaian.
Penulis meyakini jika materi tersebut diatas dimasukan atau melampiri buku Menghubungkan Pembelajaran Siswa dan Teknologi karya Sharon Adams dan Mary Burns akan sangat bagus dan implemented.

D.     SIMPULAN

Berdasarkan tulisan artikel dan saran yang diajukan maka dapat disimpulkan bahwa Pemanfaatan ICT untuk meningkatkan kualiatas pembelajaran bisa terjadi. Jika seorang tenaga pendidik memiliki wawasan dan ketrampilan dalam hal :
1.      ICT diintegrasikan pada proses pembelajaran, bukan dipelajari secara khusus seperti di lembaga kusrus.
2.      Para guru memahami benar tentang teori kontrusktifisme untuk diimpelemntasikan dalam pembelajaran.
3.      Para guru mengenal dan menguasai perangkat yang tersedia pada ICT.
4.      Ruang kelas dinamis untuk keleluasaan siswa mengakses sumber belajar yang tersedia ICT.
Perubahan paradigma perlu dilakukan dari mempelajari computer (ICT) menjadi memanfaatkan computer (ICT) dalam proses pembelajaran. Semoga menjadi tambahan wawasan untuk kita semua.

E.      REFERENSI
  1. Bagley, C., & Hunter, B. (July 1992). Constructivism and Technology: Forging a New Relationship. Educational Technology, 22-27.
  2. Balkcom, S. (1992). Cooperative Learning: What Is It? Washington, D.C: Office of Educational Research and Improvement. (ERIC Document Reproduction Service No. ED 346 999).
  3. Boethel, M. (1996). The Promise and Challenges of Constructivist Professional Development: A Review of the Literature of the SCIMAST Approach. Unpublished manuscript, Southwest Educational Development Laboratory.
  4. Boethel, M., & Dimock, V. (1999). Constructing Knowledge with Technology: A Review of the Literature. Austin, TX: Southwest Educational Development Laboratory.
  5. Brooks, J., & Brooks, M.G. (1993). In Search of Understanding: The Case for Constructivist Classrooms. Alexandria, VA: Association for Supervision and Curriculum Development.
6.      Depdiknas (2007), PP No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses.
  1. Modul BBM  BERMUTU ( 2007) Dep Diknas  Pemanfaatan ICT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar