Rabu, 12 September 2012

PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH



Sambutan, dari Diknas pada acara  :
“ LOKA KARYA
PENGEMBANGAN MODUL PELATIHAN PRIORITAS
TINGKAT NASIONAL”

Ada berberapa wacana untuk meninjau ulang kurikulum. Namun pembelajaran tetap menggunakan PAKEM. Manajemen berbasis sekolah akan dimanfaatkan untuk menanamkan pendidikan karakter, untuk itu pengelolaan kelas harus efektif.

Masalah pokok pada pendidikan ternyata bukan pada kurikulum, namun pada proses pembelajaran. Mengapa  belum terjadi di semua sekolah, karena kebijakan – kebijakan kemendiknas apapun ternyata implementasinya tidak sampai ke sekolah.

Untuk itu diharapkan program PRIORITAS menjadi kepanjangan tangan dari program Kementrian Pendidikan dan kebudayaan Nasional. Pastikan program – program kemendiknas diterima dulu pada guru di sekolah.

Praktisi pendidikan  banyak bermain pada strategi pelatihan dan pembelajaran, kita masih kekurangan bahan ajar mengenai konsep dan strategi pembelajaran, diperlukan workshop-workshop menyusun bahan ajar.  Kurikulum saat ini sebenarnya sulit untuk disusun buku, contoh ( anak mengenal tokoh – tokoh di daerahnya, anak mengenal jenis – jenis tumbuhan di daerahnya, isi diskusi adalah masalah – masalah yang sedang dihadapi siswa. Pada dasarnya siswa datang ini perlu kita siapkan “ pengalaman apa yang akan diperoleh siswa, siswa mau belajar apa). 

Oleh sebab itu pembelajaran benar – benar membutuhkan guru – guru kreatif. Inilah perlunya kita memerbanyak film – film pembelajaran yang baik, mengapa inspirasi dari film bisa mengalahkan bangunan sistem yang terjadi di sekolah yang puluhan tahun ini.

Hal – hal yang harus diutamanakan percepatan peningkatan mutu pendidikan

  1. Perbanyak Referensi untuk siswa dan guru
  2. Peningkatan Strategi pelatihan guru dan strategi pembelajaran
  3. Pelaksanaan Evaluasi, menjamin semua di atas terlaksana dengan baik di sekolah.

Kenyataan saat ini sekolah maju dengan baik, bukan karena kebijakan, namu karena di sekolah tersebut ada guru-guru yang baik dan berkualitas. Bukti pemerintah membuat pilot peningkatan mutu, pada evaluasi diknas mengadakan lomba ternyata sekolah-sekolah yang dijadikan pilot tidak ada yang juara.

Seperti biasa setiap hari Sabtu pagi menteri melakukan jalan-jalan ke  daerah, mentri melihat ada sekolah di mana seorang lagi menyapu halaman, pak mentri berhenti dan ingin memastikan siapa orang tersebut, ternyata Kepala Sekolah. Tidak mengira kepala sekolah tersebut didatangi Pak Mentri, kemudian diajaklah masuk ke kantor, melihat profil sekolah yang dikemas sederhana berisi tentang program sekolah yang sederhana, ada data perkembangan prestasi siswa, data kemajuan gurunya. Lingkungannya bersih, kepedulian warga sekolah sangat tinggi, Kemudian Pak mentri mengatakan kepada stafnya “ Minimal sekolah itu seperti ini “

Mendiknas membagi Karakter ke dalam 3 bagian
1.     Sadar sebagai ciptaan Tuhan
2.     Punya rasa kepenasaran terhadap intelektual
3.     Cinta tanah air

Sudah ada 15 juknis pendidikan karakter,
Diantaranya :
·       Pendidikan karakter dalam PAKEM
·       Pendidikan karakter pada ekstrakurukuler
·       Pendidikan karakter dengan budaya di sekolah
a.   Pengembangan karakter melalui 5 mata pelajaran
b.   Pengembangan karakter melalui ekstrakurikuler, pramuka, kesenian dan lain lain
c.   Pengembangan karakter kegiatan pembiasaan/budaya sekolah
Namun demikian keberhasilan pendidikan karakter akan tercapai dengan keteladanan dan pembiasaan. Hakikatnya Pendidikan karakter tidak bisa diajarkan, namun selalui tercermin pada pembelajaran. Evaluasi sebenarnya bisa dilakukan secara tidak langsung, evaluasi pendidikan karakter sebenarnya bukan mengevaluasi siswa, namun program pendidikan karakternya yang dievaluasi.

Nilai itu tidak bisa dipisah-pisahkan, jika kita mengajarkan diskusi pasti yang terjadi adalah kerjasama, menghargai, punya ide, toleransi dll. Kita tidak bisa menilai satu aspek saja, namun semua nilai – nilai kehidupan itu berhasil dapat kita lihat dan kita rasakan.

Memang ada wacana pengurangan kurikulum namun belum disetujuai. Kita tidak usah ikut berfikir tentang kurikulum, kita bermain pada strategi pembelajaran.

Sebenarnya nilai yang diperoleh siswa adalah refleksi nilai gurunya, tidak naiknya siswa adalah tidak naiknya guru dalam program pendidikan. Tidak diterimanya siswa di sekolah lanjutan adalah cerminan dari guru tersebut. Semoga informasi ini menjadi motivasi para guru di Indonesia. Sarjita.